
Sumber gambar: Android Police
Halo Sobat Data!
Selamat datang di sesi #KokBisa, tempat kita mengungkap bagaimana data dan teknologi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sering kali tanpa kita sadari. Di sini, kita juga akan mengeksplorasi berbagai fakta menarik di balik teknologi yang sering kita gunakan. Jadi, jangan lewatkan dan simak hingga akhir ya!
Pada #KokBisa kali ini, kita akan membahas salah satu fitur yang mungkin sering Sobat Data gunakan, yaitu kemampuan Google Photos untuk mengelompokkan foto orang yang sama secara otomatis. Pernahkah Sobat Data merasa heran bagaimana Google Photos bisa menampilkan semua foto seseorang, padahal foto-foto tersebut diambil di tempat, waktu, bahkan dengan ekspresi yang berbeda? Yuk, kita cari tahu bersama!
Pernah nggak sih Sobat Data mencari foto teman atau anggota keluarga di Google Photos, lalu hampir semua fotonya langsung muncul dalam satu kelompok? Padahal, kita tidak pernah memberi nama atau menandai setiap foto satu per satu. Bahkan, foto yang diambil bertahun-tahun lalu pun tetap bisa dikenali.
Lalu muncul pertanyaan sederhana: #KokBisa Google Photos bisa mengelompokkan foto orang yang sama?
Jawabannya ada pada teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Computer Vision, yaitu cabang ilmu yang memungkinkan komputer memahami isi sebuah gambar. Saat sebuah foto disimpan, sistem akan menganalisis berbagai bagian di dalamnya, termasuk mendeteksi apakah terdapat wajah manusia pada foto tersebut.
Menariknya, Google Photos sebenarnya tidak mengenali seseorang berdasarkan nama atau identitasnya. Sistem lebih dulu mendeteksi keberadaan wajah, kemudian mempelajari berbagai karakteristik unik pada wajah tersebut, seperti bentuk mata, posisi hidung, garis rahang, hingga jarak antarbagian wajah. Karakteristik ini kemudian diubah menjadi representasi data yang dapat diproses oleh komputer.
Namun, tentu saja sistem tidak sekadar membandingkan foto secara keseluruhan. Bayangkan jika seseorang menggunakan pakaian yang berbeda, berada di tempat yang berbeda, atau bahkan memiliki gaya rambut baru. Jika hanya melihat warna baju atau latar belakang, tentu sistem akan mudah keliru.
Di sinilah peran Machine Learning menjadi sangat penting. Model AI dilatih menggunakan jutaan contoh wajah sehingga mampu mengenali pola yang tetap sama meskipun pencahayaan berubah, sudut pengambilan gambar berbeda, atau ekspresi wajah tidak sama. Dengan begitu, sistem dapat memperkirakan apakah dua foto kemungkinan merupakan orang yang sama.
Setelah itu, Google Photos akan melakukan proses pengelompokan (clustering). Foto-foto yang memiliki karakteristik wajah yang sangat mirip akan ditempatkan dalam satu kelompok. Proses ini dilakukan secara otomatis tanpa perlu kita memberi label terlebih dahulu.
Bayangkan seperti saat kita melihat album foto keluarga. Walaupun setiap foto diambil pada waktu yang berbeda, kita tetap bisa mengenali mana foto ayah, ibu, atau saudara hanya dari wajah mereka. Google Photos bekerja dengan cara yang mirip, tetapi yang digunakan bukan ingatan manusia, melainkan hasil analisis data wajah oleh algoritma.
Meski cukup canggih, hasil pengelompokan ini tidak selalu sempurna. Misalnya, ketika seseorang mengenakan masker, memakai kacamata hitam, wajah tertutup sebagian, atau foto diambil dari sudut yang tidak biasa, sistem bisa saja kesulitan mengenalinya. Begitu pula jika terdapat dua orang yang memiliki wajah sangat mirip, seperti saudara kembar, sistem terkadang dapat mengelompokkannya secara kurang tepat.
Teknologi ini juga tidak hanya digunakan untuk mengelompokkan foto orang yang sama. Data visual yang dianalisis dapat dimanfaatkan untuk mencari foto berdasarkan objek, seperti “kucing”, “pantai”, “gunung”, atau “mobil”, meskipun kita tidak pernah menambahkan keterangan apa pun pada foto tersebut. Hal ini membuat pencarian foto menjadi jauh lebih cepat dan praktis.
Dari fitur yang terlihat sederhana ini, kita bisa melihat bagaimana data berperan dalam kehidupan sehari-hari. Wajah yang ada di dalam foto diubah menjadi data, kemudian dianalisis untuk menemukan pola kemiripan sehingga sistem dapat mengelompokkan foto secara otomatis.
Menarik sekali bukan, Sobat Data?
Ternyata, fitur yang sering kita gunakan untuk mencari foto keluarga atau teman melibatkan perpaduan Artificial Intelligence, Computer Vision, Machine Learning, dan Data Science yang bekerja di balik layar. Dari sini kita dapat memahami bahwa data tidak hanya digunakan untuk penelitian atau perusahaan teknologi besar, tetapi juga hadir dalam aplikasi yang kita gunakan setiap hari.
Jika kamu tertarik mempelajari bagaimana data digunakan untuk membangun berbagai teknologi cerdas seperti ini, kamu bisa mendalaminya lebih lanjut di Program Studi Sains Data Telkom University Surabaya.
Sampai jumpa di sesi #KokBisa berikutnya, dengan topik menarik lainnya seputar data dan teknologi. Mari kita terus bermain dengan data dan memanfaatkan potensi teknologi untuk memenangkan era digital ini!
Playing with Data, Winning the Era.
More info:
Website: https://bds-sby.telkomuniversity.ac.id/
Instagram: https://www.instagram.com/ds.telkomsurabaya/