
Halo Sobat Data!
Selamat datang di #DataDiaries, tempat kita berbagi cerita dan insight menarik seputar dunia sains data. Kali ini, kita akan mengulik salah satu rangkaian kegiatan dari Increment 2026, yaitu workshop bertajuk “Data Literacy for Young Storytellers” yang menghadirkan narasumber dari BPS Kota Surabaya, Raden Rara Nurariza Rahmadhanty, S.Tr.Stat.
Bayangkan kamu punya banyak data, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Dibuat grafik terasa penuh, ditulis jadi panjang, tapi tetap sulit dipahami. Nah, di sinilah workshop ini mencoba menjawab itu.
Setelah mengikuti Technical Meeting pada 30 Maret, peserta kembali bertemu secara online pada 7 April melalui Zoom Meeting. Kali ini bukan lagi soal teknis lomba, tapi bagaimana mempersiapkan karya yang benar benar berisi.
Selama workshop berlangsung, peserta diajak memahami bagaimana menyusun infografis berbasis data dengan baik. Salah satu hal yang cukup ditekankan adalah bahwa tidak semua data perlu dimasukkan ke dalam infografis. Justru, memilih data yang paling relevan menjadi langkah awal yang penting.
Contohnya, ketika ingin membahas topik screen time remaja, tidak semua statistik harus ditampilkan. Cukup ambil satu atau dua data utama yang paling kuat, lalu fokus menyampaikan pesan dari data tersebut. Dengan begitu, infografis jadi lebih jelas dan tidak membingungkan pembaca.
Selain itu, peserta juga diajak memahami pentingnya penggunaan kata. Penyampaian yang kurang tepat bisa membuat informasi terkesan berlebihan atau bahkan menimbulkan salah paham. Jadi, bukan hanya visual yang diperhatikan, tapi juga bagaimana data diceritakan dengan cara yang tepat.
Sesi tanya jawab menjadi salah satu bagian yang cukup hidup. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah bagaimana menentukan data yang layak digunakan. Dari diskusi ini, muncul insight sederhana tapi penting. Data yang baik bukan yang paling banyak, tapi yang paling relevan dengan pesan yang ingin disampaikan.
Dari workshop ini, mulai terlihat bahwa membuat infografis bukan sekadar soal desain. Ada proses berpikir di baliknya, mulai dari memilih data, menyusun alur, hingga memastikan pesan bisa dipahami dengan mudah.
Peserta yang awalnya melihat infografis sebagai desain yang menarik, mulai memahami bahwa sebenarnya ini adalah cara menyampaikan data agar lebih bermakna. Di sinilah peran data science terasa, bukan hanya mengolah data, tapi juga mengkomunikasikannya.
Melalui kegiatan ini, panitia berharap generasi muda semakin tertarik dan semangat dalam mengolah data menjadi sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Tidak hanya untuk kompetisi, tetapi juga sebagai bekal dalam menghadapi era digital yang semakin berbasis data.
Dan mungkin ini yang paling menarik untuk disadari.
Selama ini kita sering berpikir bahwa infografis yang bagus adalah yang paling menarik secara visual. Tapi lewat workshop ini, perspektif itu mulai berubah. Yang paling penting justru adalah seberapa jelas pesan dari data itu bisa dipahami.
Kalau kamu tertarik untuk ikut kegiatan seperti ini atau ingin mulai memahami bagaimana data bisa diubah menjadi sesuatu yang lebih bermakna, jangan ragu untuk terus mengikuti informasi terbaru dari Sains Data Telkom University Surabaya. Siapa tahu, ini bisa jadi langkah awal kamu di dunia data.
Playing with Data, Winning the Era.
More info:
Website: https://bds-sby.telkomuniversity.ac.id/
Instagram: https://www.instagram.com/ds.telkomsurabaya/